MAKASSAR — Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al-Islam Hidayatullah Makassar menggelar Haflah Takharruj Angkatan I pada Ahad, 14 Juni 2026, bertempat di Aula Yayasan Al Bayan Makassar. Kegiatan ini dihadiri jajaran pengurus DPD Hidayatullah Makassar, para orang tua santri, tokoh masyarakat, serta para wisudawan dan wisudawati penghafal Al-Qur’an.
Turut hadir memberikan tausiyah dan arahan Ketua Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Sulawesi Selatan, Ustadz Ir. H. Abdul Majid, M.A. Dalam kesempatan tersebut, beliau menyampaikan pesan tentang pentingnya melahirkan generasi Qurani yang memiliki karakter sebagaimana digambarkan Allah dalam Surah Al-Ma’idah ayat 54, yang kemudian beliau sebut sebagai “Generasi 5:54”.
Menurutnya, generasi yang diharapkan lahir dari lembaga-lembaga pendidikan Islam bukan hanya generasi yang mampu menghafal Al-Qur’an, tetapi generasi yang dicintai Allah dan mencintai Allah, mencintai Al-Qur’an, berakhlak mulia, serta memiliki keteguhan dalam memperjuangkan kebenaran.
Mengawali tausiyahnya, beliau mengajak seluruh hadirin merenungkan firman Allah:
“Wahai orang-orang yang beriman! Barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya; mereka bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin dan bersikap tegas terhadap orang-orang kafir; mereka berjihad di jalan Allah dan tidak takut kepada celaan orang yang mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya), Maha Mengetahui.” (QS. Al-Ma’idah: 54)
Menurut beliau, ayat ini menjadi gambaran ideal tentang generasi yang harus dilahirkan. Generasi yang dicintai Allah dan mencintai Allah. Dalam konteks pendidikan Al-Qur’an, generasi itu adalah mereka yang memiliki kecintaan mendalam kepada Al-Qur’an dan menjadikan Al-Qur’an sebagai bagian dari kehidupannya.
“Allah cinta mereka dan mereka juga cinta kepada Al-Qur’an,” ungkapnya.
Beliau mengingatkan bahwa menghafal Al-Qur’an bukanlah perkara mudah. Banyak tantangan dan hambatan yang harus dihadapi. Namun di balik itu, terdapat peluang besar bagi generasi muda untuk menjadi penjaga Kalamullah.
Menurutnya, masuknya Al-Qur’an ke dalam diri seseorang sangat ditentukan oleh kebersihan hati. Semakin bersih hati seseorang, semakin mudah cahaya Al-Qur’an menetap dalam dirinya.
Karena itu, beliau mengingatkan agar para orang tua tidak hanya menyerahkan urusan hafalan kepada anak-anak semata.
“Jangan juga orang tua berlepas. Tidak mau menghafal. Kita harus iri kepada yang muda. Anak kita menghafal, kita juga menghafal,” pesannya.
Beliau kemudian berbagi pengalaman pribadi tentang perjuangan mendampingi anak dalam menghafal Al-Qur’an.
“Anak saya, saya masukkan di Magetan. Tiga tahun menyelesaikan hafalan. Bermujahadah dengan serius. Biaya dan waktu diperlukan,” tuturnya.
Dari pengalaman tersebut, beliau menegaskan bahwa melahirkan generasi Qurani membutuhkan kesungguhan, pengorbanan, dan kesabaran. Tidak cukup hanya berharap, tetapi perlu usaha nyata dan mujahadah yang berkelanjutan.
Dalam tausiyahnya, beliau juga mengisahkan keteladanan Rabiatul Adawiyah dan pentingnya menjaga hubungan hati dengan Allah. Beliau mengingatkan bahwa Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk, rahmat, dan obat bagi manusia.
“Kalau Al-Qur’an menyatu dalam diri, Al-Qur’an bisa menjadi obat. Tapi tergantung kesucian hati seseorang,” tegasnya.
Karena itu, menurut beliau, melahirkan generasi Qurani harus “direkayasa”. Rekayasa yang dimaksud adalah menciptakan lingkungan yang mendukung kebersihan hati dan kedekatan kepada Allah.
Beliau kemudian mengajukan pertanyaan yang menggugah kepada para hadirin.
“Siapa yang tiga hari ini tidak punya rasa jengkel kepada orang lain?”
Menurutnya, apabila seseorang mampu menjaga hati dari rasa jengkel, dendam, dan kebencian, maka itu merupakan tanda-tanda hati yang bersih.
“Kalau tidak ada, maka hati sudah menunjukkan tanda bersih,” ujarnya.
Beliau menekankan bahwa hati sangat menentukan keberhasilan seseorang dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an. Oleh sebab itu, generasi Qurani harus dibangun dari hati yang selalu dekat dengan Allah, hati yang bebas dari dendam, marah, dan berbagai penyakit hati lainnya.
Al-Qur’an, lanjut beliau, diturunkan dengan kebenaran. Al-Qur’an juga diturunkan sebagai syifa’ yang harus ditadabburi agar mampu menyembuhkan penyakit yang ada dalam diri manusia. Al-Qur’an menjadi hudan dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.
Di hadapan para pimpinan, guru, dan stakeholder pendidikan, beliau menyampaikan harapan besar agar seluruh elemen lembaga bersama-sama mengawal lahirnya generasi Qurani.
“Saya yakin dan berharap pimpinan dan stakeholder mengawal dan merekayasa. Kita semua di lembaga ini juga siap terlibat membantu dalam rangka melahirkan generasi Qurani,” katanya.
Kepada para santri, beliau berpesan agar senantiasa menjaga hafalan Al-Qur’an di mana pun berada.
“Jaga Al-Qur’an, hafalanmu di mana saja. Selalu murajaah,” pesannya.
Beliau juga mengingatkan para orang tua untuk memberikan apresiasi atas capaian hafalan anak-anak mereka.
“Santri hafal Qur’an adalah kebahagiaan bagi orang tua. Jangan pelit memberi hadiah jika ada capaian dari sisi hafalan anak.”
Menurutnya, menjaga hafalan membutuhkan usaha yang tidak ringan. Diperlukan mujahadah yang terus-menerus agar hafalan tetap terjaga dan bertambah kuat.
“Orang yang menjaga Al-Qur’an, hatinya akan terjaga. Dan ini menjadi kebahagiaan tersendiri bagi orang tua,” ujarnya.
Di bagian akhir tausiyah, beliau mengingatkan pentingnya menjaga pandangan dan menjauhi berbagai hal yang dapat merusak hafalan, termasuk penggunaan gawai yang tidak terkontrol.
“Menjaga hafalan harus ekstra. Jaga mata. Jaga dari kerusakan HP. HP makhluk halus kedua dari syaitan,” ungkapnya yang disambut senyum para hadirin.
Beliau berharap para santri tidak hanya menjadi penghafal Al-Qur’an, tetapi juga memiliki karakter dan akhlak Al-Qur’an sebagaimana yang digambarkan dalam Surah Al-Qalam.
Harapan besar itu bermuara pada lahirnya generasi Al-Ma’idah ayat 54, generasi yang dicintai Allah dan mencintai Allah, rendah hati kepada sesama mukmin, teguh dalam memegang prinsip kebenaran, berjihad di jalan Allah, serta tidak takut terhadap celaan manusia ketika menegakkan kebenaran.
Generasi seperti itu, tegas beliau, merupakan karunia Allah yang harus terus diupayakan melalui pendidikan, pembinaan, mujahadah, dan kecintaan yang mendalam terhadap Al-Qur’an.
“Hafalan kita jaga, kita tingkatkan. Semoga lahir generasi Qurani yang menjadi kebanggaan umat dan penyejuk hati kedua orang tuanya,” pungkasnya.