MAKASSAR — Menjelang datangnya Tahun Baru Islam 1448 Hijriah, suasana Masjid Umar Al-Faruq Hidayatullah Makassar pada Selasa sore (8/6/2026) tampak lebih semarak dari biasanya. Ratusan jamaah bapak dan ibu memenuhi ruang utama masjid untuk menghadiri Kajian Tarbiyah Ruhiyah bertema “Keutamaan Bulan Muharram” yang disampaikan oleh Sekretaris DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, Ustadz Reskyaman S.W., S.Pd., M.M.
Kegiatan yang berlangsung penuh khidmat ini merupakan hasil kolaborasi antara DPD Hidayatullah Makassar, Kampus Utama Al-Bayan Hidayatullah Makassar, Mushida Makassar, Departemen DLU Al-Bayan, Departemen Dakwah Hidayatullah Makassar, serta DKM Masjid Umar Al-Faruq. Kajian ini menjadi bagian dari upaya bersama dalam menguatkan pembinaan ruhiyah dan menumbuhkan semangat saling menasihati dalam ketakwaan.
Dalam pemaparannya, Ustadz Reskyaman mengajak jamaah untuk memandang bulan Muharram bukan sekadar pergantian kalender Hijriah, tetapi sebagai momentum memperbarui iman, memperkuat amal, dan memperteguh arah perjalanan hidup menuju ridha Allah.
Mengawali kajian, beliau mengingatkan firman Allah dalam Surah At-Taubah ayat 36 yang menjelaskan bahwa Allah menetapkan dua belas bulan dalam setahun dan empat di antaranya merupakan bulan-bulan haram yang dimuliakan. Muharram termasuk salah satu bulan yang memiliki keistimewaan tersebut.
“Ketika Allah memuliakan sebuah waktu, maka seorang mukmin hendaknya memuliakannya dengan memperbanyak amal kebaikan,” ujarnya di hadapan jamaah.
Menurut beliau, keutamaan Muharram dapat dipahami melalui tiga dimensi penting, yaitu dimensi keyakinan, dimensi sejarah, dan dimensi amalan.
Pada dimensi keyakinan, jamaah diajak menyadari bahwa Muharram merupakan kesempatan berharga untuk memperbanyak amal saleh karena pahala yang Allah berikan berlipat ganda. Momentum ini hendaknya tidak berlalu begitu saja tanpa peningkatan kualitas ibadah dan kedekatan kepada Allah.
Beliau juga menjelaskan bahwa sebelum Islam datang, masyarakat Arab Jahiliyah memiliki pemahaman yang berbeda tentang bulan-bulan haram. Islam kemudian mengembalikan kemuliaan bulan tersebut sesuai ketetapan Allah dan menjadikannya sebagai waktu yang dihormati.
Sementara itu, pada dimensi sejarah, Ustadz Reskyaman mengulas berbagai peristiwa penting yang berkaitan dengan Muharram. Salah satunya adalah peristiwa Asyura yang mengabadikan kemenangan Nabi Musa Alaihissalam bersama Bani Israil atas Fir’aun.
Kisah tersebut, menurutnya, bukan sekadar catatan sejarah, tetapi pelajaran besar tentang keimanan dan pertolongan Allah kepada hamba-Nya yang bertawakal.
“Jangan pernah merasa bahwa keberhasilan datang karena kemampuan diri sendiri. Mukjizat Nabi Musa sekalipun terjadi semata-mata karena pertolongan Allah,” tuturnya.
Beliau juga mengingatkan bahwa bulan Muharram menjadi penanda awal tahun Hijriah yang identik dengan peristiwa hijrah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dari Makkah ke Madinah. Dari peristiwa hijrah itu, umat Islam belajar bahwa perubahan besar selalu menuntut pengorbanan, kesabaran, dan keteguhan dalam mempertahankan prinsip kebenaran.
“Tidak ada kebangkitan tanpa pengorbanan. Hijrah mengajarkan bahwa perubahan menuju kebaikan membutuhkan kesungguhan dan keberanian,” katanya.
Pada bagian akhir kajian, Ustadz Reskyaman mengajak jamaah untuk menghidupkan Muharram dengan amalan-amalan utama yang dianjurkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Di antaranya adalah memperbanyak puasa sunnah, khususnya puasa Asyura dan Tasu’a.
Beliau mengutip hadis Nabi yang menjelaskan bahwa puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Muharram.
Selain puasa, beliau juga menekankan pentingnya menjaga qiyamullail atau shalat malam sebagai salah satu amalan yang sangat dicintai Allah. Menurutnya, kedekatan seorang hamba dengan Rabb-nya sering kali dibangun melalui ibadah-ibadah sunyi yang dilakukan ketika kebanyakan manusia terlelap.
Dalam kesempatan tersebut, beliau turut mengingatkan jamaah tentang pentingnya istiqamah setelah Ramadhan. Mengutip ibrah dari Surah An-Nahl ayat 92, beliau mengajak jamaah agar tidak menjadi seperti seorang wanita yang menguraikan kembali benang yang telah dipintalnya dengan kuat.
“Jangan sampai amal-amal yang telah kita bangun selama Ramadhan justru hilang karena kelalaian setelahnya. Istiqamah adalah kunci keberhasilan seorang mukmin,” pesannya.
Menutup kajian, Ustadz Reskyaman mengangkat keteladanan tawakal Nabi Musa ketika berada di hadapan lautan sementara Fir’aun dan pasukannya mengejar dari belakang. Dalam situasi yang tampak mustahil sekalipun, Nabi Musa tetap yakin terhadap pertolongan Allah.
“Seandainya keyakinan Nabi Musa bergeser sedikit saja, tentu beliau tidak akan selamat. Begitu pula kita hari ini. Di tengah berbagai ujian kehidupan, kita membutuhkan tawakal yang kuat agar selalu mendapatkan pertolongan Allah,” tuturnya.
Kajian ditutup dengan doa bersama yang dipanjatkan penuh harap agar Allah memberikan keberkahan di bulan Muharram, menguatkan keimanan umat, serta menjaga semangat dakwah dan pembinaan yang terus tumbuh di tengah masyarakat.
Melalui kolaborasi berbagai elemen dakwah di lingkungan Hidayatullah Makassar, kegiatan ini diharapkan menjadi sarana penguatan ruhiyah sekaligus pengingat bahwa pergantian tahun Hijriah bukan sekadar pergantian angka, melainkan momentum untuk berhijrah menuju kehidupan yang lebih dekat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Penulis: Syaharuddin Rahmani