MAKASSAR — Kemampuan berbicara bukan hanya tentang bagaimana seseorang menyampaikan kata-kata. Lebih dari itu, berbicara merupakan cermin pendidikan, akhlak, adab, kecerdasan, dan kebijaksanaan seseorang.
Tidak sedikit persoalan muncul bukan karena apa yang dibicarakan, tetapi karena seseorang tidak mengetahui kapan harus berbicara, kapan harus mendengar, kapan harus diam, dan bagaimana menimbang kata-kata sebelum disampaikan.
Sebuah ungkapan yang beredar di media sosial merangkum lima tingkatan penting dalam membangun kualitas komunikasi seseorang:
«التربية: أن تعرف متى تتكلم.
Pendidikan: mengetahui kapan harus berbicara.»
«الأخلاق: أن تسمع لمن يتكلم.
Akhlak: mau mendengarkan orang yang sedang berbicara.»
«الأدب: ألا تقاطع من يتكلم.
Adab: tidak memotong pembicaraan orang lain.»
«الذكاء: ألا تصدق كل من يتكلم.
Kecerdasan: tidak langsung mempercayai setiap orang yang berbicara.»
«الحكمة: أن تزن كلماتك قبل أن تتكلم.
Kebijaksanaan: menimbang kata-kata sebelum berbicara.»
Lima kalimat tersebut sejatinya menggambarkan sebuah proses pendidikan manusia. Semakin matang seseorang, semakin ia memahami bahwa komunikasi bukan sekadar persoalan banyak berbicara, tetapi tentang ketepatan, penghormatan, kehati-hatian, dan tanggung jawab.
- Pendidikan: Mengetahui Kapan Harus Berbicara
Pendidikan yang baik tidak hanya menghasilkan orang yang pintar berbicara, tetapi juga manusia yang tahu kapan harus berbicara dan kapan harus menahan diri.
Ada waktu untuk menyampaikan pendapat, ada waktu untuk bertanya, dan ada pula saatnya memberikan kesempatan kepada orang lain untuk berbicara.
Dalam kehidupan sehari-hari, kemampuan ini sangat penting. Di dalam keluarga, organisasi, lembaga pendidikan, maupun masyarakat, banyak persoalan dapat diminimalisasi ketika setiap orang memahami waktu yang tepat untuk menyampaikan sesuatu.
Berbicara pada waktu yang tidak tepat, bahkan dengan isi yang benar sekalipun, dapat menimbulkan persoalan.
Karena itu, pendidikan sejatinya juga mendidik manusia untuk memiliki kepekaan terhadap situasi.
- Akhlak: Mau Mendengarkan Orang Lain
Berbicara adalah hak setiap orang. Namun mendengarkan adalah bagian penting dari akhlak.
Mendengarkan dengan baik berarti memberikan penghargaan kepada orang yang sedang berbicara. Tidak sibuk mempersiapkan jawaban, tidak bermain dengan gawai, dan tidak buru-buru menyimpulkan sebelum pembicaraan selesai.
Dalam kehidupan sosial, seseorang yang mampu menjadi pendengar yang baik biasanya lebih mudah memahami persoalan.
Mendengarkan bukan berarti selalu menyetujui. Mendengarkan adalah memberikan ruang kepada orang lain untuk menyampaikan pikirannya secara utuh sebelum kita memberikan penilaian.
- Adab: Tidak Memotong Pembicaraan
Memotong pembicaraan sering kali dianggap sebagai hal kecil. Namun dalam adab Islam, menghormati orang lain ketika berbicara merupakan perkara yang tidak boleh diremehkan.
Seseorang boleh memiliki pendapat yang berbeda. Namun perbedaan pendapat tidak menjadi alasan untuk menghilangkan adab.
Dalam forum keluarga, rapat organisasi, majelis ilmu maupun pertemuan sosial, membiasakan diri menunggu seseorang selesai berbicara merupakan bentuk penghormatan.
Adab mendahului ilmu.
Sebab ilmu yang tinggi tanpa adab dapat berubah menjadi kesombongan, sementara kecerdasan tanpa akhlak dapat melahirkan sikap meremehkan orang lain.
- Kecerdasan: Tidak Mempercayai Semua yang Didengar
Tidak semua perkataan yang terdengar harus langsung dipercaya.
Di tengah derasnya arus informasi, kemampuan menyaring informasi menjadi bagian penting dari kecerdasan.
Seseorang perlu membedakan antara fakta, opini, asumsi, kabar, dan prasangka.
Al-Qur’an telah memberikan prinsip yang sangat jelas dalam hal menerima informasi:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا
“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya.”
(QS. Al-Hujurat: 6)
Ayat ini menjadi pedoman penting dalam menghadapi informasi, terlebih di era media sosial.
Kecerdasan bukan hanya kemampuan mengetahui banyak hal. Kecerdasan juga berarti kemampuan menahan diri untuk tidak tergesa-gesa mempercayai atau menyebarkan sesuatu.
- Kebijaksanaan: Menimbang Kata Sebelum Berbicara
Tingkatan yang lebih tinggi adalah kebijaksanaan.
Orang yang bijaksana tidak hanya bertanya, “Apakah yang saya katakan benar?” tetapi juga mempertimbangkan:
Apakah ini perlu disampaikan? Apakah waktunya tepat? Apakah cara menyampaikannya baik? Apa dampaknya bagi orang lain?
Sebab sebuah kata yang telah keluar dari lisan tidak selalu mudah ditarik kembali.
Dalam organisasi, satu kalimat dapat membangun semangat, tetapi satu kalimat pula dapat meruntuhkan kepercayaan.
Dalam keluarga, satu ucapan dapat menguatkan hati, tetapi satu ucapan yang tidak terjaga dapat meninggalkan luka yang panjang.
Karena itu, kemampuan menimbang kata sebelum berbicara merupakan salah satu bentuk kematangan seseorang.
Dari Banyak Bicara Menuju Berkualitas dalam Bicara
Lima tingkatan tersebut menunjukkan bahwa kualitas seseorang tidak diukur dari seberapa banyak ia berbicara.
Ada orang yang banyak bicara tetapi sedikit memberi manfaat. Sebaliknya, ada orang yang tidak banyak berbicara, tetapi setiap perkataannya memiliki bobot dan manfaat.
Maka pendidikan membimbing kita untuk mengetahui kapan berbicara.
Akhlak mengajarkan kita untuk mendengarkan.
Adab mengajarkan kita untuk tidak memotong pembicaraan.
Kecerdasan mengajarkan kita untuk menyaring informasi.
Dan kebijaksanaan mengajarkan kita untuk menimbang setiap kata sebelum disampaikan.
Pada akhirnya, kemampuan berbicara dengan baik bukan hanya persoalan komunikasi. Ia merupakan bagian dari proses membentuk pribadi yang matang, beradab, cerdas, dan bijaksana.
Sebab tidak semua yang kita pikirkan harus dikatakan, tidak semua yang kita dengar harus dipercaya, dan tidak semua yang benar harus disampaikan dengan cara yang sama.
Orang yang matang bukanlah orang yang selalu memiliki sesuatu untuk dikatakan, tetapi orang yang mengetahui kapan harus berbicara, kapan harus mendengar, dan kapan memilih diam karena itu lebih mendatangkan maslahat.