How Heart Works

Dalam rentang sepekan yang menghentak dan membuncah adrenalin ini, saya belajar tentang satu hal penting. Diperhadapkan pada dua pilihan besar yang datang beruntun memuntut jawaban.

Beratnya karena keduanya adalah passionku selama ini. Keduanya adalah medan juangku. Dan keduanya datang tepat di masa injury time, moment saat kondisi fisik dan “asap dapur” tak mengepul sempurnah.

Belum sepenuhnya pulih pasca tiga kali operasi ablasio mataku. Jika mengikuti apa yang Jo Himmings urai dalam buku best sellernya berjudul How Psychology Works, maka pilihan pertama sangat masuk akal. Fakta empiriknya tersaji rapi, “asap dapur”, stabilitas, kalkulasi risiko, dll.

Pikiran bekerja sebagaimana mestinya, logis, rasional, dan meyakinkan. Fluktuasi emosi pun memberi justifikasi. Semuanya terasa “benar” dan menggiurkan. Namun fakta lain terhampar, sepuluh bulan masa recovery pasca operasi, memaksa diri banyak berkhalwat di mihrab pribadi, ternyata membuat nyala terang satu organ lain.

Di saat mata fisik sedang diuji, ada “mata” lain yang justru semakin tajam. Dialah hati. Walau tak berteriak, tidak berdebat. Tapi hentakannya konstan dan mendalam. Itulah yang menuntun dominan ke pilihan kedua yang sudah kebayang jalur medan juangnya lebih berat, lebih berliku, dan lebih menuntut keikhlasan dan kesabaran.

Saat ruang istikharah terbuka. Akal kembali menggoda, menggelitik dengan data dan kondisi objektif yang ada.

Atas kesadaran itu, saya pun memilih satu langkah ekstrem, “mengamputasi” peran akal beserta segenap logika pembenarannya.

Saya sandarkan sepenuhnya kemudi pada otoritas Sang pengendali hati sebagai wujud penghambaan total saya.

Dan sebagai wujud ikhtiar, saya menghadap minta intruksi lansung ke pemangku mandat gerakan. Apa pun putusannya: Sami’na wa atha’na.

Yaa Allah yaa Raab, sebuah intruksi dititahkan dengan penuh kebijaksanaan, menghujam alam bawah sadar: “Bismillah saja!. Jangan hadap-hadapkan dua pilihan itu. Jajaki kemungkinan keduanya bisa berjalan beriringan.”

Alhamdulillah, hati langsung tenang karena faham, bahkan sebelum akal sempat mencerna. Saya sampaikan kesiapan itu ke otoritas pilihan kedua: Bismillah ustad, saya siap!. Allahu Akbar!. Di sela ngopi dan serunya diskusi meracik desain gerakan, telepon dari otoritas pilihan pertama masuk berdering. Menuntut jawaban sembari meberi penjelasan panjang detail program, saya pun berani berkata, “Bismillah, saya siap Prof.”

Plong. Hati plong. Pikiran menyusul plong. Dari situ kemudian saya paham perbedaannya.

Dalam perspektif Jo Hemmings, menjelaskan bagaimana pikiran bekerja, emosi dulu, logika menyusul. Tapi hati bekerja melampaui itu. Ia membuka jalan yang tak terlihat oleh nalar. Hati menenangkan sebelum bukti datang, membuat yakin sebelum peta jalan terbentang.

Demikianlah adanya How Heart Works?. Cara kerja hati, berkerja tanpa meniadakan peran akal, tapi menuntunnya dari arah depan. Dan ketika hati mejadi panglima, yang terasa bukan euforia, melainkan ketenangan batin.Wallahualam

Share Post Ini
Facebook
WhatsApp
Telegram
Related Post
Video

Info

Fitur ini sedang dalam pengembangan