Berbaik Sangka kepada Allah

“Sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri, mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. Mereka berkata, ‘Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?’ Katakanlah, ‘Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah…’” (QS. Ali Imran: 154)

Kapan kita harus berbaik sangka kepada Allah? Apakah saat menikmati karunia-Nya atau mendapat musibah? Pada saat mendapat kemudahan atau kesulitan? Pada saat gembira atau susah? Pada saat ringan menjalankan ketaatan kepada-Nya atau sedang jauh dari-Nya?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, ada baiknya kita simak terlebih dahulu Hadits Qudsi dari Abi Hurairah:

Allah Ta’ala berfirman, “Aku tergantung persangkaan hamba kepada-Ku. Aku bersamanya jika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku pada dirinya, maka Aku mengingatnya pada diri-Ku. Kalau ia mengingat-Ku di keramaian, maka Aku mengingatnya di keramaian yang lebih baik darinya. Kalau ia mendekat sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya sehasta. Kalau ia mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku mendekatinya sedepa. Kalau ia mendekati-Ku dengan berjalan, maka Aku mendatanginya dengan berlari.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ada hal penting yang bisa diperhatikan dari hadits tersebut, bahwa Allah itu Maha Hidup, aktif, dan tidak pernah istirahat. Dia tidak pernah tidur atau mengantuk.

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Al-Baqarah: 255)

Dia adalah Dzat Yang Maha responsif, tanggap, dan peduli. Tak ada seorang pun hamba yang meminta kepada-Nya kecuali dikabulkan permintaannya. Asal syarat dan ketentuannya dipenuhi, maka semua doanya akan dijawab. Jadi, tidak perlu diragukan lagi kasih sayang-Nya. Dia adalah ar-Rahman dan ar-Rahim.

Ketika dunia ditimpa musibah berupa merebaknya virus corona, apakah kita tetap berbaik sangka kepada Allah? Jawablah dengan tegas! Jika tidak, apakah kita berputus asa kepada rahmat-Nya? Atau kita tetap pongah, membusungkan dada dengan mengandalkan kemampuan diri sendiri untuk mengatasinya?

Akibat pandemi virus corona manusia terbagi menjadi dua golongan. Pertama, adalah mereka yang menyadari ketidakmampuannya tanpa pertolongan Allah. Mereka segera beristighfar, meminta ampun kepada-Nya, tetap yakin dan berbaik sangka, bahwa pertolongan-Nya segera datang. Dia yang mendatangkan penyakit dan memberikan kesembuhan.

Kedua adalah orang-orang yang sombong dan ingkar kepada-Nya. Mereka yakin mampu mengatasi persoalan ini tanpa melibatkan Allah. Mereka tak mau beristighfar serta berdoa kepada-Nya. Mereka akan mati dengan kesombongan atau keputusasaan.

Oleh : ust. Hamim Thohari

Share Post Ini
Facebook
WhatsApp
Telegram
Related Post
Video

Info

Fitur ini sedang dalam pengembangan