Makassar — Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Sulawesi Selatan menggelar kegiatan Siraman Manis (Silaturahim Bersama Imam Palestina) bersama SD Integral Albayan di Masjid Umar Al Faruq Kampus Utama Hidayatullah, Jumat (26/2/2026).
Kegiatan ini menghadirkan Imam asal Palestina, Mohammad Ibrahim Daud, yang juga merupakan pengajar Tahfidz Al-Qur’an. Seluruh siswa kelas satu hingga kelas enam mengikuti agenda tersebut dengan penuh antusias, didampingi para guru dan asatidz.
Sebagai Lembaga Amil Zakat (LAZ) nasional yang resmi dan mendapat izin operasional dari Kementerian Agama Republik Indonesia, BMH terus berkomitmen menghadirkan program dakwah, pendidikan, dan kemanusiaan yang terintegrasi. Momentum Ramadhan menjadi ruang strategis untuk menguatkan tarbiyah ruhiyah sekaligus kepedulian sosial.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
اِنَّ الَّذِيْنَ يَتْلُوْنَ كِتٰبَ اللّٰهِ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاَنْفَقُوْا مِمَّا رَزَقْنٰهُمْ سِرًّا وَّعَلَانِيَةً يَّرْجُوْنَ تِجَارَةً لَّنْ تَبُوْرَۙ
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah, mendirikan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan merugi.” (QS. Fathir: 29)
Ayat ini menegaskan bahwa tilawah Al-Qur’an harus berjalan beriringan dengan infaq dan kepedulian.

Kepala Sekolah SD Integral Albayan, Abdullah Bahsan, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi wasilah penting membangun generasi Qur’ani sejak usia dini.
“Kegiatan ini sangat berharga dan menjadi motivasi untuk siswa dalam menghafal Al-Qur’an,” ujarnya.
Ketua Panitia Ramadhan BMH Sulsel, Rizki Da Costa, menegaskan bahwa Siraman Manis bukan sekadar agenda seremonial, tetapi bagian dari proses pembentukan karakter umat.
“Kami ingin anak-anak sejak dini ditanamkan akhlak, kepedulian terhadap sesama, semangat belajar, dan keberanian membela kebenaran. Cinta Al-Qur’an harus melahirkan keberpihakan kepada umat,” tegasnya.
Ia menambahkan, kepedulian terhadap Palestina bukan hanya isu kemanusiaan, tetapi bagian dari tanggung jawab keimanan. Masjidil Aqsha adalah kiblat pertama kaum Muslimin dan tanah yang diberkahi Allah.
Sebagaimana firman-Nya:
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ
“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya…” (QS. Al-Isra: 1)
Masjidil Aqsha bukan sekadar simbol, tetapi bagian dari akidah dan sejarah perjuangan umat Islam. Kepedulian terhadapnya adalah bagian dari menjaga kehormatan umat.
Dalam tausiyahnya, Syaikh Mohammad Ibrahim Daud mengajak para siswa untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup dan sumber kekuatan umat.
“Kelak kalian akan menjadi pemimpin masa depan, membawa perubahan untuk bangsa dan umat,” pesannya.
Ia juga berpesan kepada para guru agar mendidik dengan kelembutan dan kesabaran.
“Hendaknya berlaku lembut kepada mereka. Mereka adalah aset masa depan umat dan bangsa,” tuturnya.
Momentum Ramadhan semakin menguatkan semangat berbagi. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad)
Melalui kegiatan ini, para siswa juga diajak belajar berbagi dan berdonasi untuk rakyat Palestina. Nilai yang ingin ditanamkan adalah bahwa ibadah tidak berhenti pada hafalan, tetapi melahirkan empati dan aksi nyata.
Dengan sinergi dakwah, pendidikan, dan kepedulian kemanusiaan, BMH Sulsel berharap lahir generasi Qur’ani yang kokoh akidahnya, lembut akhlaknya, serta memiliki keberanian membela kehormatan umat dan Masjidil Aqsha.
Ramadhan menjadi momentum menyatukan tilawah, tarbiyah, dan solidaritas meneguhkan bahwa mencintai Al-Qur’an berarti siap berdiri bersama umat